DASAR_DASAR ELEKTRONIKA
I. KOMPONEN ELEKTRONIKA - RESISTOR
Resistor
adalah komponen elektronika yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian
elektronika karena dia berfungsi sebagai pengatur arus listrik. Dengan resistor
listrik dapat didistribusikan sesuai dengan kebutuhan. Tentunya anda
bertanya-tanya, apa itu resistor ?, seperti apa bentuknya ?, bagaimana cara
kerjanya ?, oops..., nanti dulu saya baru akan menjelaskannya.
Ilustrasi Arus Air untuk mengetahui cara kerja Resistor
Setelah
anda perhatikan animasi tadi, tentunya anda sudah mempunyai gambaran tentang
bagaimana prinsip kerja dari sebuah resistor. Yah anda anggap saja arus air
yang ada di animasi itu sebagai arus listrik, sedangkan bendungan sebagai
resistornya. Jadi bila bendungan 1 kita anggap sebagai resistor 1 dan bendungan
2 sebagai resistor 2, maka besarnya arus tergantung dari besar kecilnya pintu
bendungan yang kita buka. Semakin besar kita membuka pintu bendungan semakin
besar juga arus yang melewati bendungan tersebut bila ingin lebih besar lagi
arusnya, yah tidak usah dipasang bendungannya atau dibiarkan saja, jadi bila
kita menginginkan arus yang besar maka kita pasang resistor yang nilai
resistansi ( tahanan ) nya kecil, mendekati nol atau sama dengan nol atau tidak
dipasang sama sekali dengan demikian arus tidak lagi dibatasi. Nah seperti
itulah kira-kira fungsi Resistor dalam sebuah rangkaian elektronika.
Suatu
fungsi dalam dunia teknik tentunya mempunyai satuan atau besaran, misalnya
untuk berat kita tahu bahwa pada umumnya satuannya adalah "gram",
satuan jarak pada umumnya orang memakai satuan " meter ". Nah untuk
resistor satuannya adalah OHM, jadi mulai sekarang kita biasakan untuk menyebut
besarnya nilai suatu resistor atau tahanan kita gunakan satuan OHM, yang sebenarnya
berasal dari kata OMEGA. Maka tidaklah heran bila lambang dari OHM berbentuk
seperti tapal kuda
orang yunani menyebutnya omega entah kenapa demikian saya juga kurang paham
karena saya bukan ahli sejarah he he he . Ok, jadi bila nanti anda melihat
rangkaian elektronika lalu disitu tertulis misalnya 470
maka itu adalah sebuah resistor dengan nilai 470 OHM.., paham..!!.
Didalam
rangkaian elektronika resistor dilambangkan dengan angka " R "
, sedangkan icon nya seperti ini :
. Ada beberapa jenis resistor yang ada dipasaran antara lain : Resistor
Carbon, Wirewound, dan Metal Film. Ada juga Resistor yang dapat diubah-ubah
nilai resistansinya antara lain : Potensiometer dan Trimpot. Selain itu ada
juga Resistor yang nilai resistansinya berubah bila terkena cahaya namanya LDR
( Light Dependent Resistor ) dan Resistor yang yang nilai resistansinya berubah
tergantung dari suhu disekitarnya namanya NTC ( Negative Thermal Resistance )
agar lebih jelas coba anda perhatikan gambar 1-a, dan animasi berikut ini :
Prinsip Dasar, Cara Kerja Sebuah LDR

Berbagai Jenis type dan bentuk Resistor
![]() |
|
|
![]() |
|
Potensiometer
|
L D R
|
N T C
|
Trimpot
|
|
Lambang-lambang
dari beberapa Jenis Resistor
|
|||
Hmmm...,
bagaimana friend !. Saya rasa sampai disini anda sudah memahami prinsip kerja
dari resisor. Sekarang mari kita lanjutkan dengan materi yang lain.
Untuk
resistor jenis carbon maupun metalfilm biasanya digunakan kode-kode warna
sebagai petunjuk besarnya nilai resistansi ( tahanan ) dari resistor. Kode-kode
warna itu melambangkan angka ke-1, angka ke-2, angka perkalian dengan 10 (
multiflier ), nilai toleransi kesalahan, dan nilai qualitas dari resistor. Kode
warna itu antara lain Hitam, Coklat, Merah, Orange,
Kuning, Hijau, Biru, Ungu, Abu-abu, Putih,
Emas dan Perak. ( lihat gambar 1-b dan tabel 1 ). Warna hitam untuk angka 0,
coklat untuk angka 1, merah untuk angka 2, orange untuk angka 3, kuning untuk
angka 4, hijau untuk angka 5, biru untuk angka 6, ungu untuk angka 7, abu-abu
untuk angka 8, dan putih untuk angka 9. Sedangkan warna emas dan perak biasanya
untuk menunjukan nilai toleransi yaitu emas nilai toleransinya 10 %, sedangkan
perak nilai toleransinya 5 %.
Wah
banyak sekali sulit untuk menghafalnya..!, hmmm.., kalau anda merasa kesulitan
menghafal kode warna dari resistor beserta nilainya, coba perhatikan teks yang
saya beri huruf tebal diatas. Kalau disatukan akan menjadi sebuah kata yang
mungkin mudah bagi anda untuk menhafalnya ( Hi Co Me O Ku Hi B U A P == 0 1
2 3 4 5 6 7 8 9 ). Ok sekali lagi coba anda lihat
gambar 1-b dan tabel 1
![]() |
KODE WARNA
|
APPLET WARNA
|
NILAI
|
TOLERANSI
|
|
Hitam
|
|
0
|
-----
|
|
|
Coklat
|
|
1
|
-----
|
|
|
Merah
|
|
2
|
-----
|
|
|
|
|
3
|
-----
|
|
|
Kuning
|
|
4
|
-----
|
|
|
Hijau
|
|
5
|
-----
|
|
|
Biru
|
|
6
|
-----
|
|
|
Ungu
|
|
7
|
-----
|
|
|
Abu-abu
|
|
8
|
-----
|
|
|
Putih
|
|
9
|
-----
|
|
|
Emas
|
|
0,1
|
10 %
|
|
|
Perak
|
|
0,01
|
1 %
|
Nah
sekarang mari kita mencoba membaca nilai suatu resistor. Misalkan anda melihat
sebuah resistor dengan kode warna sebagai berikut : Coklat, merah, merah, dan
emas. Berapa nilai resistansi dari resistor tersebut..?. ( Perlu diingat..! :
Untuk membaca angka pertama dari kode warna resistor anda harus melihat warna
yang paling dekat dengan ujung sebuah resistor dan biasanya untuk angka ke-1,2
dan 3 saling berdekatan sedangkan untuk kode warna dari toleransi agak jauh
dari warna-warna yang lain, sekali lagi lihat gambar 1-b dan tabel 1
Untuk
membaca kode warna resistor seperti yang dipermasalahkan diatas, kita mulai
menerjemahkan satu persatu kode tersebut. Warna pertama Coklat, berarti angka
1, warna kedua warna merah, berarti angka 2, warna ketiga warna merah berarti
multiflier, perkalian dengan 10 pangkat 2. kalau diterjemahkan 12 X 10 2
= 12 X 100 = 1200. Berarti 1200 Ohm. dengan nilai toleransi sebesar 10 %.
Akurasi dari resistor tersebut berarti 1200 X ( 10 : 100 ) = 1200 X ( 1 : 10 )
= 120. ( he he he, itulah ilmu exacta selalu berhubungan dengan matematika
yupsss, padahal saya juga pusing nih ngitung-ngitung yang ginian, ha ha ha..
selingan aja ) jadi nilai sebenarnya dari resistor tersebut adalah maximum 1200
+ 120 = 1320 Ohm, sedangkan nilai minimum nya adalah 1200 - 120 = 1080 Ohm.
Kenapa demikian ...?. Karena karakteristik dari bahan baku resistor tidak sama,
walaupun pabrik sudah mengusahakan agar dapat menjadi standart tetapi apa daya
prosesnya menjadi tidak standart. Untuk itulah pabrik menyantumkan nilai
toleransi dari sebuah resistor agar para designer dapat memperkirakan seberapa
besar faktor x yang harus mereka fikirkan agar menghasilkan yang mereka
kehendaki.
Sekarang
coba saya kasih soal lalu anda cari nilai nya sendiri, ( buat PR . he he he...,
kayak anak SD aja ). Soalnya begini : Didalam sebuah rangkaian saya melihat
sebuah resistor jenis carbon dengan warna-warna sebagai berikut ; Merah,
Kuning, Hijau dan Perak. Berapa nilai minimum dari resistor tersebut ?.
Di
dalam praktek para designer sering kali membutuhkan sebuah resistor dengan
nilai tertentu. Akan tetapi nilai resistor tersebut tidak ada di toko penjual,
bahkan pabrik sendiri tidak memproduksinya. Lalu bagaimana solusinya..?.
Nah...!, seperti yang pernah saya singgung diatas bahwa ilmu exacta selalu
berhubungan dengan matematika, maka untuk mendapatkan suatu nilai resistor
dengan resistansi yang unik dapat dilakukan dua cara ; Pertama cara SERIAL, dan
yang kedua cara PARALEL. ( Wah.., nambah pusing lagi
nih..! ). Dengan cara demikian maka masalah designer diatas dapat terpecahkan. Bagaimana cara Serial dan bagaimana pula
cara Paralel, untuk lebih jelasnya coba anda perhatikan gambar 1-d.

Cara memasang Resistor cara Serial dan Paralel
Dengan
Cara tersebut suatu nilai resistor dapat menjadi unik. Lalu bagaimana
menghitungnya ?, Ehmm. mudah saja, untuk cara serial anda tinggal menambahkan
saja nilai resistor 1 dan nilai resistor 2. ( R1 + R2 ) . Sedangkan untuk cara
paralel anda dituntut untuk mengerti ALJABAR ( wah-wah lagi-lagi matematika )
tapi mudah kok. Kalau ingin mahir Matematika buka saja topik yang membahas
khusus tentang matematika di situs ini juga. Ok kembali ke permasalahan. Untuk
cara paralel ditentukan rumus sebagai berikut : misalkan kita memparalel dua
buah resistor, resistor pertama diberi nama R1 dan resistor kedua diberi nama
R2, maka rumusnya adalah : 1/R= ( 1/R1 ) + ( 1/R2 )
Contoh
: Kita mempunyai dua buah resistor dengan nilai berikut R1=1000 Ohm , R2=2000
Ohm, bila kita menggunakan cara serial maka didapat hasil R1+R2 1000+2000 =
3000 Ohm, sedangkan bila kita menggunakan cara Paralel maka didapat hasil :
1 / R = 1 / R1 + 1 / R2
1 / R = (1/1000) + (1/2000)
1 / R = (2000 + 1000) / (1000 X 2000)
1 / R = (3000) / (2000000)
1 / R = 3 / 2000
3R = 2000
R = 2000 / 3
R = 666,7 Ohm -----> Resistor Hasil Paralel.
silahkan buktikan sendiri dengan persamaan aljabar dalam matematika.
II. Mengukur Resistor dengan AVR
meter
( Ampere, Voltage, Resistance Meter )
Selain cara manual diatas kita juga dapat menggunakan alat
untuk mengetahui besarnya nilai resistansi suatu resistor. Alat tersebut dinamakan
AVR meter atau kebanyakan orang Indonesia menyebutnya MULTI TESTER. Biasanya
alat bantu ini berbentuk kotak dilengkapi dengan jarum penunjuk serta skala
untuk membaca nilainya. Ada dua jenis bentuk alat ini yaitu standar dan
digital, untuk AVR jenis digital nilainya ditunjukan dengan layar LCD seperti
halnya jam tangan yang menggunakan layar LCD. Atau bila anda juga tidak
familiar, OK anda lihat saja kalkulator nah seperti itulah penunjuknya
kira-kira . ( hehehheh. kalau masih OOT juga liat deh gambar 1d, 1e sama 1f ).( Ampere, Voltage, Resistance Meter )
![]() AVR MANUAL |
![]() AVR DIGITAL |
![]() Cara Mengukur Resistor dengan AVR |
Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mengukur resistor yang nilai resistansinya besar sekali, misalnya 10 M Ohm. Coba saja anda ukur dengan AVR..!, anda akan melihat bahwa jarum AVR hampir tidak bergerak atau mungkin tidak bergerak sama sekali. lalu bagaimana cara mengukurnya dengan AVR bila nilai resistornya melebihi 1M OHM..?, Nah sekali lagi anda dihadapkan dengan rumus ( pusing juga nih, pake alat tapi masih pake rumus hahaahha ). Rumusnya adalah hukum OHM yaitu : V = i X R dimana, V = Voltage atau tegangan listrik, i = Kuat arus listrik dan R adalah nilai Resistansinya. Dengan menggunakan persamaan matematika didapat bahwa : R = V : i. Contoh kasus : dirumah kita biasanya tegangan listrik adalah 220 volt, bila kita menggunakan arus sebesar 5 Ampere. maka nilai resistansinya adalah R = V : i ==> R = 220 : 5 ==> R = 44 OHM. Didalam Praktek kita nggak usah pusing-pusing memikirkan rumus tersebut, itu hanya sekedar pengetahuan saja biar anda tambah paham mengenai dasar-dasar elektronika. Nah merajuk dari hukum OHM diatas, maka didalam praktek bila kita ingin mengetahui nilai sebuah resistor dengan AVR tentu saja kita harus menggunakan listrik sebagai alat bantu pengukuran, caranya..? lihat gambar 1 g.
Cara mengukur Resistor berukuran besar
Sekarang coba anda lihat lagi AVR anda...!, nah bergerak kan !!, biasanya bergeraknya sedikit, diujung AVR ada tertera ukuran 1M, 2M dan 10M dengan skala 100 K perbaris. Tanpa anda sadari bahwa cara mengukur resistor dengan ukuran besar, anda juga dapat mengetahui berapa arus listrik yang mengalir dirumah anda coba lagi rumus diatas. Untuk mengetahui arus listrik ( i ) menurut persamaan matematika maka i = V : R.
Baiklah sampai disini pembahasan kita mengenai resistor. bila anda masih belum paham apa yang telah saya uraikan mengenai resistor. anda dapat melayangkan pertanyaan, kritikan, saran dan sejenisnya ke alamat email : support.suryascience@gmail.com, atau anda dapat langsung menuliskannya melalui SSC FORUM. Kita lanjutkan mengenai komponen elektronika lainnya yaitu CAPASITOR pada update mendatang. Terima kasih atas segala atensi, pertanyaan, kritik dan saran terhadap tutorial ini.





